BLANTERTOKOSIDEv102

Desa Burno Senduro Dari Murdana hingga Biogas

Mandiri Energi dan Pangan: Desa Burno Senduro, Dari Murdana hingga Biogas | Koran Senduro Online

Koran Senduro Online

SENIN, 16 DESEMBER 2025 | ARTIKEL UTAMA & SEJARAH LOKAL

Mandiri Energi dan Pangan: Desa Burno Senduro, Dari Murdana hingga Biogas

Desa Burno, yang berada di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, layak menyandang predikat desa mandiri. Berlokasi strategis di bawah kaki Gunung Semeru, Burno unggul karena ketahanan pangan dan kemandirian energinya. Inilah kisah dari ‘Tanah Subur’ (Murdana) hingga inovasi biogas modern.

Asal-Usul Nama: Murdana (Tanah Subur)

Sejarah nama Burno mencerminkan kekayaan dan kesuburan tanahnya. Nama "Burno" diyakini berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kata "Murdana", yang berarti "tanah subur". Tokoh yang mengungkapkan kata ini adalah Mbah Karr Minten, orang pertama yang membuka hutan belantara di sana.

Kronologi Singkat Desa Burno
  • Pendiri: Mbah Karr Minten (Pembuka lahan).
  • Lokasi: Kaki Gunung Semeru.
  • Pembentukan Desa: Tahun 1918 (diresmikan dari nama Wono pada masa Belanda).
  • Warisan Budaya: Penemuan Arca Brahma dan Wisnu di kawasan Perhutani.

Kemandirian Pangan dan Energi Terbarukan

Kemandirian Burno terbagi menjadi dua sektor utama. Pertama, **Ketahanan Pangan**. Selain bergantung pada padi, masyarakat memanfaatkan **umbi-umbian** sebagai sumber pangan alternatif. Selain itu, praktik menanam di bawah tegakan pohon hutan desa (agroforestri) menjamin ketersediaan sumber daya pangan berkelanjutan.

Kedua, **Kemandirian Energi**. Masyarakat Burno telah beralih dari gas LPG dan memanfaatkan **biogas yang dihasilkan dari kotoran ternak** untuk kebutuhan memasak dan industri rumahan. Inovasi ini tidak hanya mengurangi pengeluaran energi rumah tangga, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah yang ekologis.

Timeline Pemimpin Desa Burno (1918–Sekarang)

Perkembangan Desa Burno tidak lepas dari peran para pemimpinnya yang tercatat sejak awal pembentukan desa:

Bapak Karr
1918 - 1921 (Kepala Desa Pertama)
Bapak Winorejo
1921 - 1928
Bapak Sukirno Tolaqsono
Menjabat setelah 1928 (Ditembak mati Belanda pada 1948 karena perjuangan rakyat)
Bapak RT Nto
1951 - 1952 (Pimpinan sementara)
Bapak Tengco Nou
1953 - 1980 (Kepala Desa Paling Lama Menjabat)
Bapak Wetan Kartoharjo
1981 - 1985
Bapak Thalib
1986 - 2003
Bapak Sampurno
2003 - 2008
Bapak Sutondo
2008 - 2013
Bapak Sampurno
2014 - 2019 (Periode Kedua)
Bapak Sutondo
2019 - Sekarang (Periode Kedua)

Warisan Budaya dan Penemuan Arca

Penemuan Arca Brahma (berkepala empat dan bertangan empat) dan Arca Wisnu menegaskan bahwa wilayah Burno merupakan situs penting peradaban Hindu kuno. Meskipun arca sudah aus, penemuan ini memberi gambaran tentang sejarah panjang wilayah tersebut. Kedua arca kini tersimpan sebagai koleksi di Museum Mpu Tantular, Surabaya.

Kesimpulan Redaksi

Desa Burno merupakan perpaduan harmonis antara kekayaan sejarah (Murdana dan Arca Hindu) dan inovasi modern (Biogas dan Ketahanan Pangan). Kepemimpinan yang terus berlanjut sejak 1918 menjadi fondasi kuat bagi desa ini untuk terus bergerak maju menuju kemandirian total.