Koran Senduro Online
Profil Geografis Desa Burno: Pintu Gerbang Alam Lumajang yang Berbatasan dengan TNBTS dan Pusat Komoditas Ekspor
Desa Burno, yang terletak di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, merupakan wilayah yang memiliki posisi geografis strategis dengan luas mencapai 548,750 Ha. Berjarak sekitar 21 km dari ibukota Kabupaten Lumajang, desa ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah melalui sektor pertanian dan peternakan yang maju.
1. Batas Wilayah dan Lokasi Strategis
Posisi Desa Burno sangat istimewa karena berbatasan langsung dengan kawasan konservasi penting. Secara rinci, batas-batas wilayah Desa Burno adalah sebagai berikut:
- Titik Koordinat: -8.0839637358442, 113.07042628595
- Sebelah Barat: Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)
- Sebelah Timur: Desa Senduro, Lumajang
- Sebelah Selatan: Desa Jambekumbu, Pasrujambe, Lumajang
- Sebelah Utara: Desa Kandang Tepus, Lumajang
Kedekatan dengan TNBTS di sebelah barat menunjukkan Burno berada di zona penyangga yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki potensi besar dalam pengembangan ekowisata dan pemanfaatan hasil bumi yang subur.
2. Denyut Ekonomi: Pertanian dan Peternakan
Desa Burno diberkahi dengan tanah yang subur, menjadikannya basis utama pertanian dan peternakan di Kecamatan Senduro. Sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah sebagai petani dan peternak.
Rutinitas harian warga terlihat jelas di pagi dan sore hari. Pukul 6 pagi, ratusan warga sudah memulai aktivitas ke ladang atau tempat kerja. Sementara di sore hari, tampak pemandangan khas peternakan: warga membawa milkcan atau wadah susu berkapasitas 15 liter menuju cooling unit. Di lokasi tersebut, petugas dengan teliti memeriksa kandungan lemak dan protein susu, memastikan kualitas terbaik produk peternakan mereka.
3. Komoditas Unggulan: Pisang Mas Kirana untuk Pasar Global
Potensi sumber daya alam Desa Burno juga menjadi sumber terciptanya lapangan pekerjaan baru, termasuk Home Industri. Yang paling menonjol adalah reputasi Desa Burno sebagai desa pengekspor pisang mas kirana di pasar internasional. Keberhasilan ini didorong oleh komitmen penduduk Burno dalam mempertahankan kualitas terbaik dari pisang tersebut, sehingga jangkauan pasarnya bisa menembus luar negeri.
4. Tantangan Pengelolaan Dana Desa di Era Perubahan
Sejak mulai mengelola dana desa pada tahun 2017, Desa Burno terus berupaya mengoptimalkan pembangunan. Namun, pada tahun 2020, pelaksanaan dana desa sempat menghadapi kendala signifikan akibat bencana nonalam, yaitu Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).
Pandemi ini menyebabkan perubahan cepat pada peraturan perundang-undangan, mengharuskan Desa Burno menyesuaikan pelaksanaan program sesuai perubahan, seperti pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 156/PMK.07/2020 tentang Perubahan Ketiga atas PMK No. 205/PMK.07/2019. Ketangguhan desa dalam beradaptasi dengan perubahan regulasi di masa krisis ini menunjukkan komitmen perangkat desa dalam memastikan tata kelola yang baik.
Penutup Redaksi
Desa Burno adalah contoh harmonisasi antara geografi alam yang strategis dengan potensi ekonomi komersial yang tinggi. Dengan sektor pertanian dan peternakan yang kuat serta kontribusi pada pasar ekspor, Burno terus menjadi desa yang mandiri dan berdaya di Kabupaten Lumajang.
