Koran Senduro Online
📜 Jejak Sundoro dan Sarung Adat: Sejarah dan Akulturasi Budaya Suku Tengger di Desa Argosari
Desa Argosari, yang namanya berarti Argo (Gunung) dan Sari (Inti/Sarinya Gunung), menyimpan sejarah panjang yang erat kaitannya dengan legenda lokal dan Suku Tengger. Artikel ini mengupas asal-usul desa hingga dinamika budaya remajanya di tengah arus modernisasi.
1. Asal Mula Desa: Dari Sumbersari Menjadi Argosari
Sejarah Desa Argosari bermula dari kisah Kerajaan Ki Raden Pacet, yang memiliki anak bernama Sundoro, dan Dahyang Dono Sari, yang memiliki anak bernama Sundari. Keduanya ditugaskan untuk membuka hutan. Dalam perjalanan ini, Sundari bertemu Patih Tanggul Langin dan saling jatuh cinta. Walaupun hubungan mereka dilarang Ki Raden Pacet, Sundoro dan Sundari, bersama kawan-kawannya, terus melanjutkan tugas mereka.
Usaha mereka membuahkan hasil, yakni ditemukannya sumber air besar dan bersih yang kemudian dinamai Sumbersari. Sumber ini terletak di tengah pedukuhan. Setelah itu, mereka memberi nama berbagai tempat di sekitar mata air, seperti Madang Caring, Karangsari, Dadapan, Ledok Kercis, dan Tempursari.
Akhirnya, Sundoro dan Sundari berkumpul di tengah desa dan memberi nama Argosari, yang berasal dari 'Argo' (Gunung) dan 'Sari' (Inti atau Sarinya Gunung). Nama ini secara resmi menggantikan Sumbersari pada tahun 1907. Sementara itu, nama dusun seperti Pusung Dukur (tempat mengukur gunung yang tinggi) dan Dusun Gedog (asal kata Kandang Ternak) juga memiliki kisah tersendiri.
2. Estafet Kepemimpinan Desa Sejak 1907
Sejak resmi bernama Argosari, kepemimpinan desa (Petinggi Rakyat/Kepala Desa) telah berganti beberapa kali. Berikut daftar pemimpin yang tercatat dalam sejarah desa:
| Nama Kepala Desa | Masa Jabatan | Keterangan Penting |
|---|---|---|
| SARIYAT | 1907 – 1930 | Petinggi Rakyat Pertama. |
| SURIYAT | 1930 – 1940 | Meninggal dunia di tengah masa jabatan. |
| SUDAR | 1940 – 1948 | Melanjutkan kepemimpinan setelah Suriyat meninggal. |
| TIRTO AGUNO | 1948 – 1958 | Memimpin saat terjadi krisis pangan. |
| MUSIN | 1958 – 1968 | Terpilih melalui pemilihan langsung pertama. |
| KARIYO WIGUNO | 1968 – 1979 | — |
| SAINAN | 1979 – 1988 | — |
| HARIANTO | 1988 – 1998 | — |
| MARKATUN | 1998 – 2008 | — |
| MARTI’AM (Pj) | 2008 – 2013 | Penjabat (Pj) Kepala Desa karena tidak ada calon. |
| ISMA’IL | 2014 – selanjutnya | Terpilih melalui pemilihan langsung. |
3. Pergeseran Gaya Berpenampilan Remaja Tengger
Gaya hidup remaja Suku Tengger di Argosari menunjukkan akulturasi budaya yang menarik. Tradisionalnya, penampilan mereka lekat dengan sarung adat, terutama sarung yang dililitkan di leher.
Pemakaian sarung oleh wanita memiliki simbol tertentu berdasarkan letak ikatan: ikatan kiri berarti perawan, kanan berarti sudah punya pacar, dan belakang berarti sudah bersuami. Terjadi pergeseran nilai, pemakaian sarung tetap menjadi kewajiban adat, meski terdapat remaja yang memilih untuk tidak mengenakannya saat berada di luar kawasan desa.
Modernisasi membawa budaya baru, terlihat dari gaya penampilan remaja yang mengikuti tren luar, seperti pemakaian tato, cat rambut, dan gaya berpakaian kekinian. Ini adalah proses akulturasi: mempertahankan sarung adat di satu sisi, sambil mengadopsi elemen modern di sisi lain.
4. Sosialisasi Budaya Lokal: Peran Tokoh dan Keluarga
Untuk melestarikan budaya, masyarakat Tengger melakukan sosialisasi secara intensif:
- Tokoh Masyarakat: Dukun Adat (Pandhita Adat) dan Kepala Desa memberikan wejangan atau petuah saat upacara adat (seperti upacara Karo) dan penyuluhan di tempat umum. Upacara adat diwajibkan sebagai sarana pelestarian budaya.
- Keluarga: Sosialisasi dilakukan melalui nasehat, memberikan contoh dengan tindakan, dan mewajibkan remaja mengikuti acara adat. Ini bertujuan agar remaja terbiasa dengan tradisi sejak dini.
Secara umum, sosialisasi ini berupa petuah, peraturan adat, dan pembiasaan. Kegiatan ini dilakukan saat upacara di Pura, di rumah, hingga saat bincang-bincang santai di lingkungan desa. Sosialisasi ini tidak hanya mencakup adat-istiadat dan gaya hidup, tetapi juga nilai keagamaan dan sosial.
Bagi masyarakat Suku Tengger yang memeluk agama Islam, mereka tetap menghormati adat dengan mengidentifikasi mana budaya yang bisa diikuti, misalnya hanya mengikuti silaturahmi pada upacara Karo tanpa mengikuti ritual sembahyangnya.
Penutup
Dari legenda Sundoro hingga akulturasi gaya remaja, Desa Argosari adalah contoh nyata sebuah komunitas yang menghormati sejarahnya sambil terbuka terhadap perubahan. Upaya sosialisasi budaya lokal yang berkelanjutan adalah kunci untuk menjaga identitas Suku Tengger di tengah modernitas.
