Koran Senduro Online
Mengenal Lebih Dekat Senduro: Desa 'Bunga Edelweiss' Bersejarah, Pusat Pisang Agung, dan Pilar Toleransi Lumajang
SENDURO – Desa Senduro di Lumajang, Jawa Timur, bukan sekadar wilayah administratif. Desa yang dikenal sebagai 'Desa Bunga Edelweiss' ini adalah cerminan sejarah panjang, kemandirian ekonomi, dan teladan toleransi. Dulu, Senduro merupakan kawasan 'under distrik' di bawah Distrik Kandangan, sebelum akhirnya dikembangkan menjadi ibu kota Kecamatan Senduro yang kita kenal sekarang.
1. Kilas Balik Sejarah Senduro (Timeline)
Perjalanan Desa Senduro sangat kaya. Nama "Senduro" konon berasal dari kata "Sundoro," nama seorang pangeran dari Kesultanan Mataram yang kelak menjadi Raja kedua Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
- Era Kerajaan Kediri Awal Mula Sumber Daerah ini sudah ada sebagai pedukuhan kecil bernama Sumber, yang dipimpin oleh Mbah Sembrung. Sumber menjadi jalur transit (Tirtayatra) bagi peziarah Gunung Semeru.
- Tahun 1844 Berdirinya Desa Senduro Desa Senduro secara resmi berdiri, bertepatan dengan momen Tahun Baru Islam.
- Tahun 1867 Legalitas Resmi Desa Raden Hendro Kusumo ditunjuk sebagai Patih Afdelling pertama oleh Kolonial Belanda. Sejak masa inilah Senduro kemungkinan memiliki Kepala Desa resmi, karena Patih terlibat dalam proses seleksi Kades.
2. Pondasi Ekonomi: Pisang Agung dan Kambing Senduro
Kemandirian Desa Senduro ditopang oleh dua sektor utama: pertanian dan peternakan. Produk unggulan yang menjadi kebanggaan adalah Pisang Agung dan Kambing Senduro. Komoditas ini tidak hanya untuk konsumsi lokal, tetapi juga menjadi andalan pergerakan ekonomi warga. Keberadaan Pasar Pisang di Senduro memperkuat status desa ini sebagai pusat distribusi pisang, komoditas utama Kabupaten Lumajang.
Potensi Lokal: Desa Senduro memiliki situs bersejarah seperti Candi Selogending, bukti peradaban yang pernah maju di kawasan tersebut. Hal ini perlu digali lebih lanjut sebagai aset pembangunan desa.
3. Potensi Pariwisata dan Simbol Toleransi
Senduro dijuluki Desa Bunga Edelweiss karena keindahan alamnya yang menawarkan 'seribu pemandangan berbeda' kepada wisatawan. Namun, daya tarik terbesar Senduro adalah peranannya sebagai pilar keharmonisan sosial.
Desa ini menjadi rumah bagi Pura Mandara Giri Semeru Agung, tempat ibadah umat Hindu. Pura terbesar ini berdiri megah di tengah-tengah pemukiman mayoritas Muslim. Kerukunan dan toleransi di sini bukan sekadar simbolis, melainkan sudah tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika ada masalah, masyarakat Desa Senduro berupaya menyelesaikannya dengan musyawarah, mencari solusi terbaik bagi semua pihak, yang mereka sebut sebagai "Yo Opo Enake?" (Bagaimana enaknya?). Nilai kearifan lokal seperti inilah yang menjadi pagar pelindung bagi Desa Senduro di tengah modernisasi, memungkinkan mereka menciptakan strategi pembangunan yang sesuai dengan potensi dan ciri khas desa.
Kesimpulan Laporan
Sejarah dan budaya Desa Senduro, mulai dari asal nama Mataram hingga tradisi toleransi, adalah warisan yang harus terus dijaga dan dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya dan pedoman hidup harmonis.
