BLANTERTOKOSIDEv102

Tengering Budhi Luhur: Menggali Makna Filosofis, Mitos, dan Hubungan Sejarah Suku Tengger dengan Majapahit

Asal-usul Suku Tengger: Mitos Rara Anteng & Jaka Seger, Jejak Majapahit, dan Sejarah Pembentukan Desa Ranu Pani | Koran Senduro Online

Koran Senduro Online

JUMAT, 12 DESEMBER 2025 | SEJARAH DAN FILOSOFI BUDAYA

Tengering Budhi Luhur: Menggali Makna Filosofis, Mitos, dan Hubungan Sejarah Suku Tengger dengan Majapahit

Masyarakat Tengger, yang mendiami lereng-lereng Gunung Tengger dan Semeru, memiliki kekayaan sejarah dan filosofis yang mendalam. Nama Tengger bukan sekadar penunjuk lokasi geografis, melainkan mengandung makna etimologis dan spiritual yang telah diwariskan turun temurun, mencerminkan nilai-nilai luhur yang mereka pertahankan hingga kini.

1. Etimologi dan Filosofi Kata Tengger

Kata Tengger memiliki beberapa makna yang saling terkait, memperkuat identitas masyarakatnya:

Makna Etimologis Tengger
  • Berdiri Tegak: Diam tanpa bergerak.
  • Tengering Budhi Luhur: Jika dikaitkan dengan kepercayaan, Tenger (Jawa: tanda/ciri) diartikan sebagai "sifat-sifat budi pekerti luhur."
  • Daerah Pegunungan: Mengacu pada letak geografis mereka yang berada di lereng-lereng pegunungan.

Makna dari istilah tersebut tercermin dalam kehidupan nyata masyarakat Tengger yang hidup sederhana, tentram, damai, bergotong royong, bertoleransi tinggi, dan suka bekerja keras. Mereka adalah rakyat petani yang bekerja di ladang dari pagi hingga petang, bahkan sehari penuh.

2. Mitos Rara Anteng dan Jaka Seger

Arti kata Tengger juga dianalisis dari mitos cikal bakal masyarakatnya, yaitu pasangan suami istri Rara Anteng dan Jaka Seger. Tengger merupakan singkatan dari suku kata pertama nama mereka: Teng (dari Anteng) dan Ger (dari Seger).

Kata Anteng mengandung arti sifat tidak banyak tingkah laku dan tidak pernah terusik, yang sejalan dengan sifat masyarakat yang tentram dan damai. Dalam legenda diceritakan, pasangan ini memiliki 25 orang anak. Salah satu anaknya, Kusuma, dikorbankan sebagai tumbal dengan masuk ke kawah Gunung Bromo demi keselamatan saudara-saudaranya, sebuah kisah yang menjadi dasar dari upacara adat mereka.

3. Hubungan Historis dengan Kerajaan Majapahit

Masyarakat Tengger tergolong tradisional dan mampu mempertahankan nilai-nilai nenek moyang mereka. Konon, terdapat hubungan historis yang erat dengan Kerajaan Majapahit. Bukti-bukti ini diperkuat dengan adanya berbagai alat upacara agama yang berasal dari zaman Majapahit, yang masih dipakai oleh para Pandita Tengger hingga kini.

Alat-alat ritual tersebut antara lain: Prasen (tempat air suci) terbuat dari kuningan, bergambar dewa dan zodiak agama Hindu, yang sebagian besar berangka tahun Saka antara 1243 dan 1352, yaitu masa kejayaan Majapahit. Alat ritual lain seperti baju Antrakusuma dan Sampet juga diyakini berasal dari Majapahit. Pengakuan ini diperkuat oleh tokoh masyarakat, Bapak Sutrisno, yang menyatakan bahwa masyarakat Tengger 'berasal/keturunan dari Majapahit'.

4. Sejarah Pembentukan Desa Ranu Pani

Sejarah pembentukannya dari Dusun Ranu Pani modern dimulai dari masa penjajahan Belanda. Sebagian Desa Argosari pernah disewa oleh warga Belanda bernama Tuan Kesos untuk peternakan sapi, dari tahun 1923 hingga 1942. Setelah Belanda kalah perang dengan Jepang, Tuan Kesos meninggalkan haknya, dan areal tanah itu menjadi hutan belukar.

Pada tahun 1953, Bapak Suwandi Subo Kastowo (yang kelak menjadi Bupati Lumajang) memelopori usulan kepada Pemerintah Lumajang agar tanah kosong tersebut dapat ditempati oleh warga masyarakat Tengger yang tidak memiliki lahan (penduduk penampungan).

Secara sembunyi-sembunyi, 15 warga penampungan mulai mengerjakan tanah di wilayah tersebut. Akhirnya, pada tahun 1957, Pemerintah DATI II Lumajang mengeluarkan izin kepada warga penampungan untuk menempati areal tanah kosong seluas 224 Ha. Sejak saat itulah, Dusun Ranu Pani mulai berkembang, diambil dari nama telaga (Ranu=Jawa) yang ada di daerah tersebut, dan menjadi cikal bakal permukiman Tengger yang padat hingga sekarang.

Penutup Redaksi

Sejarah Suku Tengger adalah kisah tentang ketahanan budaya dan spiritual. Dari mitos leluhur hingga artefak peninggalan Majapahit, dan perjuangan membentuk permukiman di Ranu Pani, mereka terus menjunjung tinggi tradisi Hindu-Budha yang terpadu dalam kearifan lokal pegunungan.